Marine Surveyor & Inspection Services

0812-701-5790 (Telkomsel) Marine Surveyor PT.Binaga Ocean Surveyor (BOS)

0812-701-5790 (Telkomsel) Marine Surveyor PT.Binaga Ocean Surveyor (BOS)
Marine Surveyor

Kisah Cinta Gaya Playboy Bupati Garut Aceng

Kisah Cinta Gaya Playboy Bupati Garut Aceng
Pelaut bisa jadi kalah Play Boy -nya dengan Aceng yg menjabat sebagai Bupati Garut ini,
Akhir-akhirnya nama "Aceng" menjadi popular keyword di mesin pencari Google, setelah heboh pernikahan singkat 4 hari saja dengan si cantik Fani Oktora begitunya dengan blog Berita Kapal ini mendapat kunjungan lumayan besar dari pengunjung yg sedang mencari berita terkini kasus Aceng dan Fani Oktora ini, namun ternyata sebelum dengan Fani Oktora yg heboh ini, sang Bupati Garut Aceng sudah pernah menikah dengan Shinta Larasati juga hanya 2 bulan saja.

1354721418381636311sumber: TVOne
GILA! Ternyata sebelum menikahi Fani Oktora selama hanya empat hari, Aceng Fikri yang diyakini segera menjadi mantan bupati ini telah menikahi seorang mojang Karawang bernama Shinta Larasati dan hanya berumur dua bulan saja. Coba lihat photo-foto pernikahan Aceng dengan Shinta Larasati diatas !
Akankah muncul korban-korban Aceng Fikri yang lain?

a4f597a5df94dee3dd77f3f8d5a8a61c_fani-octora
Seorang Bupati di Garut, Jawa Barat, mencerai isteri (mudanya) hanya melalui SMS. Sang isteri, bernama Fani (18 tahun) kini mengalami depresi. Peritiwa ini sontak meletupkan kegaduhan. Berduyun-duyun orang melancarkan protes. Lebih-lebih, kejadian ini melibatkan tokoh —tepatnya pejabat publik, yang memimpin Garut.
Dalam pengamatan terbatas, perkara ini selesai sebagai perdebatan seputar kepatutan dan etika sahaja. Tentang tega-teganya mencerai isteri hanya dengan selarik pesan SMS. Disertai kata-kata yang merendahkan pula. Di televisi, betapa ringan sang Bupati Raja itu mengatakan bahwa ia kecewa lantaran isterinya itu tidak perawan? Dan ia mengaku mati rasa. Atau, betapa leceh memperlakukan seorang perempuan, bisa diputus hubungan dengan cara seenaknya.
Semua fakta-fakta itu, jika ditarik ke perspektif yang jauh, memperlihatkan seonggok bukti tentang masih lekatnya budaya kuasa para raja.
Ya, sejarah nusantara memperlihatkan noktah hitam tentang perilaku menghargai perempuan sebagai (maaf) mainan. Apa yang dilakukan Bupati Garut, segaris-seirama dengan apa yang menjadi hobby para Raja, Mahapatih, Tumenggung, Senopati, Akuwu (di era kerajaan kuno), atau bahkan para Demang (di zaman Kumpeni).
Para petinggi di waktu yang telah lewat itu, mengusung kehormatan dan wibawa kekuasaannya dengan bertumpu pada belasan atau ratusan tangis kaum perempuan. Logika kekuasaan saat itu adalah: para raja dan jajarannya, melengkapi simbol kekuasaannya dengan memperisteri sebanyak mungkin wanita (muda). Akar tradisi yang menghunjam ke ulu hati para penikmat kekuasaan zaman kuno itu adalah: menjadi pejantan tangguh!
Sayangnya, tradisi kekuasaan pejantan tangguh ini tak diikuti dengan karakter ksatria, sebagaimana bisa kita lihat dalam epos kepahlawanan di berbagai tempat. Seperti, misalnya, etos bushido di Jepang, yang menjadi jalan para ksatria (the way of warrior).
Tentu saja semua itu berangkai dengan pemujaan terhadap simbol-simbol kejantanan (minus kekesatriaan) itu. Lalu tumbuh sebagai perilaku bersama. Diterima sebagai suratan takdir. Tak ada upaya untuk membongkar atau melucuti tabiat barbar itu. Perilaku leceh terhadap perempuan itu bahkan tak dikenal sebagai aib
Tetapi hari ini, kita menjerit marah, bahwa nyatanya garis sejarah itu tidak putus. Sang Bupati seolah penjelmaan lengkap tentang pemimpin di dunia modern tetapi dengan laku lampah pra sejarah!
Anakronik
Sebuah anakronisme sejarah (pertentangan antara apa yang seharusnya terjadi dengan realita yang terbukti), telah hadir. Rupanya, Republik Indonesia belum benar-benar menjadi modern. Betapa dalam kanker sejarah gulita itu mencengkeram mentalitas pejabat-pejabat kita. Mereka tak hanya korup, rakus, dan dungu (sebagaimana para raja terdahulu). Tetapi sekaligus juga mengabaikan hak-hak mendasar para wanita.
Meski begitu, tetap saja peristiwa ini menghentak kesadaran. Banyak orang yang melancarkan protes, demonstrasi, tandatangan keprihatinan, bahkan usulan agar Bupati Raja itu dipecat
Dari situasi ini, bolehlah kita menarik poin asumsi, misalnya dengan menganggap bahwa modernitas di negeri ini gagal untuk mengubah mental dan karakter (terutama para pemimpin). Modernitas dan kecanggihan teknologi, semata hadir sebagai perangkat teknis belaka. Dan tidak member wawasan baru apapun. Sebab gaya hidup mereka tetaplah feodal, kuno, tribal, dan penuh nafsu angkara.
Hari Ini
Hari ini kita berharap (dan wajib mengupayakan) agar ada hukuman setimpal terhadap Bupati Garut yang sombong itu. Bukan apa-apa: dia melakukan kesalahan yang berlipat-lipat dan maha berat. Sebagai tokoh publik, perilakunya pasti menjadi pembenar bagi kalangan lain di bawahnya, untuk ramai-ramai melakukan tindakan serupa (tak hormat pada seorang gadis). Tetapi yang paling utama, Sang Bupati menyakiti nalar manusia beradab.
Bahasa kekuatan harus diperlihatkan. Orang-orang yang berpikir waras, harus menggalang kekuatan bersama untuk menghukum si Bupati. Gerakan perempuan harus menjadikan ini contoh untuk kembali bangkit bersama. Begitu juga media, aktivis, mahasiswa, tak boleh diam. Karena substansi persoalan adalah begitu gawat. Pikir saja: bagaimana mungkin dia akan bertindak beradab dalam hal-hal lain, sedangkan di perkara yang sakral saja, berbuat semau diri.
Begitupun tindakan hukum dan isu HAM harus menyeret Pak Bupati untuk —-sekali-kali— tahu diri. Agar tak ada lagi pejabat publik yang bertindak kotor seperti itu.
Di bagian akhir, sungguh peristiwa ini tak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Negeri ini sedang butuh etos kepemimpinan, keteladanan para tokoh, dan panutan yang baik dari para penguasa. Karena di tangan mereka sesungguhnya jalan nasib banyak orang dipertaruhkan. Lantas, akan seperti apa moral generasi muda kita, jika kelakuan bejat semodel Bupati Garut kita kita tanggapi biasa-biasa saja?

Namun dengar-dengar Aceng sudah meminta maaf ke Fany Octora,
Bupati Garut, Aceng HM Fikri akhirnya meminta maaf ke Fany Octora (18), mantan istri yang dinikahi siri hanya dalam 4 hari. Tak hanya Fany, pihak keluarga juga menerima perimintaan maaf Aceng tersebut.

"Tidak ada maksud atau niat tidak baik. Mudah-mudahan dengan keikhlasan ini kita semua bisa saling menerima. Sebab tali yang kusut baik diluruskan sebagai tali silaturrahmi," ujar Ayi, perwakilan keluarga Fany saat bertemu dengan Aceng di Pesantren Al Fadilah, Desa Duwung Siru, Limbangan, Garut, Jawa Barat, Rabu (5/12/2012).

Ayi mengatakan, pihaknya berdosa jika tidak menerima permintaan maaf dari orang lain. Pihak keluarga Fany pun juga meminta maaf kepada Aceng atas kasus yang belakangan menjadi sorrota. Ayi pun berharap agar hubungan keluarga kedua belah pihak bisa terus baik.

"Kita inginnya seperti ini, karena memang tidak ada niat jelek. Dan dosa bagi kita kalau tidak memberikan maaf. Kita juga minta maaf atas kesalahan-kesalahan dari pihak kami. Mudah-mudahan setelah islah tidak berbuntut lagi. Kalau ada beberapa pihak yang mengingingkan seperti ini, biarkann saja. Yang penting kita menyambungkan silaturrahmi," ucapnya.

Sementara itu, terkait dengan laporan terhadap Aceng yang telah dilayangkan Fany ke Mabes Polri, akan segera dicabut.

"Yang pasti, setelah ini semua selesai, kita akan cabut tuntutan. Dengan adanya permintaan maaf ini, tidak ada alasan untuk menolak permintaan maaf yang sudah dilontarkan," katanya.

Berikut gambar, fhoto, photo, foto pernikahan kontroversial Bupati Garut Aceng dengan Istrinya, Fany, Shinta dari mesin pencari google.


0 Response to "Kisah Cinta Gaya Playboy Bupati Garut Aceng"

Posting Komentar

Program Perhitungan Minyak Petroleum Create your own banner at mybannermaker.com!
bisnis tiket pesawat online Peluang Bisnis Tiket Pesawat
Draft Survey Software untuk Pelaut

cek tiket pesawat murah